Ini cerita tentang satu senja di kampung halaman saya, negeri pantai, Lampung. Saat itu, di serambi rumah kami, tercipta percakapan seperti ini.
“Ti, berapa beratmu? Satu kuintal ya?”(ini suara mamak saya yang lembut menggemaskan)
“Hah, apa sih mamak ini, mana ada!” (ini suara saya yang tegas aka defensif)
Nyatanya, tebakan mamak saya, tidaklah salah sepenuhnya. Berat saya memang satu kuintal kurang sedikit (5 kilo).
Sampai sekarang percakapan selintas itu terus terngiang dalam pikiran saya. Tebakan mamak saya, tidaklah salah sepenuhnya. Dia yang membawa saya dalam kandungannya sejak berat saya nol koma nol nol sekian gram, lantas membawa-bawa saya selama sembilan bulan, dan ketika berat saya sudah lebih 3 kilogram saya akhirnya dikeluarkan dari perutnya.
Mamak saya mengikuti perkembangan saya sejak kecil hingga tamat sekolah menengah atas. Setelah itu saya pergi, kuliah di tempat yang jauh, bekerja di tempat yang lumayan jauh juga, hanya sekali-sekali pulang. Setiap pulang menjenguk ayah dan mamak, di mata mereka saya tidak terlihat semakin kecil, atau tetap langsing, tapi SAYA TERUS MEMBESAR.
***********
Sudah lama saya tak pulang ke rumah menjenguk mamak dan ayah *hapus air mata. Rindu bukan kepalang, mamak berkali-kali menelepon meminta saya pulang. Tapi, ada saja yang menghambat saya pulang.
Kemarin, kakak saya yang hamil besar menelepon minta saya pulang waktu dia melahirkan “bulan depan dek,” katanya, adik saya yang sedang hamil juga ikut-ikutan meminta saya pulang pada pengajian 4 bulanan kehamilannya “bulan depan kak, tanggal 17 tepat 4 bulan,” kata dia.
********
Bulan lalu saya sebenarnya hendak pulang, tapi saya berniat menyiapkan kejutan untuk mamak, “Mak, anakmu yang 60 kilo pulang lohhh.” Ah, indah sekali ya…
Rencana kejutan itu terus saja menemani hari-hari saya, si abang yang kena batunya. Setiap bercermin, yang saya tanya pada abang adalah, “Bang, udah bisa nga-getin mamak belum ya?” | “Bang, mamak tau bedanya ga ya?” | “Bang, udah keliatan belum perubahannya?” | Berbagai macam pertanyaan dengan inti yang sama terus saya sampaikan pada si abang, dan jawaban abang selalu “Udah keliatan kok dek.” Jawabannya hanya itu, untuk setiap pertanyaan yang berbeda bunyinya.
*********
Kemarin, janji itu saya ucapkan, bulan depan saya pulang, menjenguk mamak, menjenguk ayah, melihat bakal calon keponakan baru, mengelusi perut buncit si adik-yang memproduksi jabang bayi mendului kakaknya, menceramahi si bungsu supaya rajin kuliah.
Mak, anakmu pulang… Tapi, kali ini nampaknya anakmu belum bisa muncul dengan berat 60 kilo Mak, 75 kilo harusnya sudah oke untuk sementara ya Mak…
Mak, anakmu yang sedang melangsing, rindu padamu…
/Rere aka @atemalem